(Darah Kuru) Banjir Darah Di Tegal Kuru
Dan ketika pagi merekah,
berangkatlah dengan suara gemuruh lasykar besar dari Negara Wirata. Merah
menyala busana barisan terdepan bagaikan semburat sinar matahari fajar yang
membias mega dari puncak gunung gemunung ketika hendak menerangi jagat.
Susul menyusul warna warni barisan
yang lain bergerak bersama, yang berwarna kuning kumpul sesama kuning terlihat
seperti sekumpulan burung podang yang menguasai pucuk ranting-ranting pohon
besar. Barisan yang berwarna putih berkumpul sesama putih, sehingga kelihatan
bagaikan kumpulan burung kuntul menyebar memenuhi rawa rawa. Demikian juga
barisan dengan seragam berwarna hijau, biru, hitam, ungu dan sebagainya
terkumpul sesamanya.
Terlihat dari kejauhan, bebarisan
prajurit dengan seragam berwarna warni elok bagaikan kelompok kembang setaman.
Suara gemerincing kendali dan kerepyak ladam kuda membentur bebatuan jalan,
bercampur dengan irama tidak beraturan tangkai tombak yang saling beradu
menambah hingar bingarnya suara barisan. Kemeriahan barisan ditingkah dengan suara
tetabuhan tambur, suling, kendang dan bende serta kelebatnya bendera bersimbol
warna warni, bagai hiasan pesta, indah dipandang mata ! Debu akhir kemarau
membubung tinggi dibelakang barisan menambah dramatis dalam pandangan siapapun
yang melihat.
Diatas awan para dewa, dewi,
hapsara, hapsari menyebar bunga mewangi, memuji, hendaknya barisan Pandawa dan
sekutunya akan unggul dalam perang.
Pada barisan terdepan adalah lasykar
setia dari Jodipati berbendera hitam dengan gambar gajah. Terlihat sang Werkudara
yang selamanya tidak pernah berkendara, tetap dengan jalan kaki menggenggam
gada super besar ditangannya. Dibelakangnya Patih Gagakbongkol mengiring
langkah gustinya dengan tegap.
Berikutnya nampak Arjuna dengan
kereta kencananya yang berhias sesotya gemerlap, lasykarnya berbendera merah
keemasan dengan gambar kera ditengahnya. Disampingnya duduk istrinya, Wara
Srikandi, anak Prabu Drupada, seorang wanita berwatak prajurit.
Susul menyusul dibelakangnya sesama
barisan saudara Pandawa yang lain, Prabu Punta dengan memangku surat Jamus
Kalimasadda, duduk diatas kereta. Disampingnya duduk Wara Drupadi dengan rambut
terurai melambai ditiup angin. Dalam benak Sang Dewi terpikir, inilah saat yang
ditunggu untuk keramas dengan darah Dursasana, seorang yang coba mempermalukannya
pada pesta permainan dadu dahulu. Atas perlindungan dewa, kain kemben yang coba
dilepas sang Dursasana menjadi tak berujung. Saat itulah Draupadi bersumpah
untuk tidak bergelung sebelum keramas dengan darah Dursasana.
Susul menyusul dibelakangnya, kembar
bungsu Pandawa Nakula dan Sadewa, dengan berbendera ungu bergambar dewa kembar,
Batara Aswin-Aswan.
Pada barisan sekutu, barisan
Dwarawati dipimpin Prabu Kresna beserta sang adik ipar Arya Setyaki, disambung
barisan dari Wirata dengan pengawak Prabu Matswapati diiring kedua Putranya
Utara dan Wiratsangka. Resi Seta, putra Sulung baginda Matswapati yang sedang
dalam semedi di Selaperwata atau Sukarini-pun segera disusul utusan untuk
memintanya turun gunung, diberi warta bahwa Baratayuda segera terjadi.
Dibelakangnya, lasykar Pancalareja/Pancalaradya
prabu Drupada didampingi Pangeran Pati Arya Drestajumna, atau Trustajumena.
Dibelakangnya kembali menyusul raja raja sekutu yang lain yang mengharap
kemukten dengan ikut serta dalam perang suci ini.
Tak ketinggalan barisan yang
dipimpin anak-anak muda Pandawa, Gatutkaca dengan pasukan raksasa dan manusia
biasa dari Pringgandani, kemudian putra sang Arjuna, Abimanyu, putra sang
Punta, Pancawala dan saudara muda yang lain.
Sampailah barisan di tepi lapangan
yang maha luas, tegal Kurukasetra. Barisan yang mengumpul menjadi satu bagaikan
pasangnya air samudra yang meleber ke daratan. Beberapa pesanggrahan dibangun
untuk menjadi base camp dibeberapa tepi strategis. Prabu Puntadewa beserta para
sesepuh menamai pesanggrahan utama sebagai Pesanggrahan Randuwatangan. Dengan
penguat batang kayu pohon randu, dipadu patut dengan segala hiasan hingga
menyerupai istana.
Pesanggrahan untuk para senapati
dengan nama pasanggrahan Randugumbala, pesanggrahan dengan bahan kayu semak
randu, sedang pesanggrahan untuk prajurit garda depan dengan nama Glagahtinunu,
pasanggrahan dengan lahan rumput glagah yang dibakar terlebih dahulu.
Begitupun juga di pihak Kurawa,
mereka membuat pesanggrahan yang dihias bagaikan istana yang sesungguhnya,
dinamakan Pesanggrahan Bulupitu, pesanggrahan utama dimana para calon senapati
dihimpun dalam satu naungan, sementara para prajurit melingkup disekitar
pesanggrahan.
Ditempat lain Adipati Karna
menempati pesanggrahan Ngurnting, Prabu Salya mesanggrah di Karangpandan.
Persiapan di pihak Pandawa
dimatangkan, Dewi Kunti sudah datang diantar kembali iparnya Arya Yamawidura
beserta putra sang Yamawidura, Arya Sanjaya ke Randuwatangan.
“Kanjeng
Ibu, putra putra paduka mengharap restumu untuk mengemban tugas suci ini”. Puntadewa
memulai pokok pembicaraan setelah haru biru berlalu, menyesali mengapa perang
harus terjadi. Tetapi pada dasarnya mereka adalah kesatria waskita, yang dianugrahi
hati penuh kebijaksanaan.
Kunti dengan penuh wibawa menguatkan
batin anak anaknya,“Anak anakku, watak
satria adalah mempunyai hati yang teguh. Tidak pernah merasa ragu dalam
bertindak. Bila sudah dikatakan dahulu bahwa negara akan dikembalikan setelah
masa perjanjian lewat, maka janji itu adalah hutang yang harus dibayar, dan
kalian pantas untuk mendapatkan apa yang dijanjikan”.
“Sedangkan
kamu semua adalah kesatria yang diidamkan oleh ayahmu dahulu, semua anak Pandu
adalah anak anak yang teguh memegang janji. Sekarang ini adalah saat yang tepat
untuk kalian semua berbakti kepada mendiang ayahmu, menjaga kebanggaan
akan sikap yang ditanamkan sejak kamu masih kecil”
Sementara kebulatan tekad
terlahirkan, Yamawidura , paman para Pandawa dan Kurawa, tidak tega ikut dalam
perang, dalam pikirannya masih berkecamuk rasa sesal, kedua pihak adalah bagian
dari darah dagingnya. Dan minta pamitlah Arya Yamawidura kembali ke
Panggombakan, kadipaten dalam lingkungan kerajaan Astina.
Pesanggrahan Bulupitu. Prabu
Duryudana dalam sidang darurat penetapan senapati.
Hadir didalamnya Prabu Salya dari
Mandaraka sudah diundang datang. Demikian juga Resi Bisma dan Begawan Durna.
“ Para
sesepuh semua dan saudaraku, tidak sabar rasaku ini hendak mulai menumpas
Pandawa yang tidak tahu tata”. Duryudana mengambil inisiatif awal
dengan menunjuk seorang senapati.
“Eyang
Bisma, dengan segala hormat, kami para Kurawa meminta kanjeng Eyang
menjadi senapati pertama”. Strategi Duryudana menunjuk. Dalam
pikirnya, Baratayuda akan dibuat sesingkat mungkin.
Ia berkesimpulan, siapapun dari
pihak Pandawa tidak akan mampu menanggulangi krida Sang Bisma Jahnawisuta,
satria dengan nama muda Dewabrata, sarat dengan ilmu kaprawiran dilambari
kesaktian hasil dari mesu raga olah batin pada sepinya pertapan Talkanda
menjadikannya seolah tanpa tanding.
Sebenarnyalah Resi Bisma ada dalam
situasi batin yang bertentangan dengan pihak yang ia bela. Dalam hatinya,
kesatria Pandawa-lah yang terkasih ini tersimpan dalam relungnya.
Tetapi intuisi seorang Pandita
waskita mengatakan, “inilah
saatnya bagiku untuk mengunduh segala pakrti yang aku pernah perbuat
dimasa lalu”.
Dalam benaknya terbayang, ketika ia
pernah muda dan salah langkah, membunuh putri Kasi bernama Dewi Amba tanpa
sengaja, untuk menghindari batalnya sumpah kepada sang ibu sambung, dewi
Durgandini, bahwa ia akan menjalani hidup sebagai brahmacarya, seorang yang tak
kan pernah menyentuh perempuan.
Terngiang dalam telinganya akan
ajakan sang Dewi Amba ketika menjelang ajalnya menjemput, bahwa ia akan
menggandeng tangan sang Dewabrata saat ia akan bertarung dengan prajurit wanita
entah kapan. Dan dalam pengamatannya prajurit wanita yang pantas menjadi
sarana kemuliaan adalah prajurit Pandawa. Kelompok satria utama yang pantas
mengantarnya kembali ke alam tepet suci.
Satu hal lagi, Bisma akan kembali
bertarung dengan Seta, seorang putra sulung raja Wirata yang sama sama gemar
bertapa. Ketika itu mereka sepakat akan kembali bertarung mengadu kesaktian
akibat dipisahkan Hyang Naradda, karena pertempuran mereka oleh suatu sebab
menimbulkan panas hingga sampai ke Kahyangan Jonggring Salaka. Dan momen ini
tak dapat ia tinggalkan melihat Wirata ada di pihak Pandawa.
Ketika itu kedua adiknya Citragada dan Wicitrawirya, diserahi putri
penengah dan terakhir sehingga dewi Amba tetap mengharap untuk dinikahi
Dewabrata. Namun sumpah Dewabrata kepada ibu tiri, Dewi Durgandini, yang
khawatir tahta akan jatuh kepada Dewabrata atau anak turunnya, menyebabkan
Dewabrata bersumpah untuk tetap melajang seumur hidupnya.
Demikianlah, Senapati utama telah
ditunjuk, dengan senapati pendamping Prabu Salya dan Pandita Durna. Formasi
serangan mematikan telah disusun sesuai dengan ambisi sang Prabu Duryudana yang
tidak mau mengulur waktu segera mengeluarkan jurus maut berisi orang orang
sakti andalan.
Kata sepakat telah bulat, strategi
telah disusun, pilihan jatuh pada gelar Wukir Jaladri, gunung karang ditepi
laut dengan deburan ombaknya. Kokohnya pertahan karang laut dengan gerakan
ombak laut yang dahsyat siap melumat barisan prajurit Pandawa. Gemuruh langkah
cepat prajurit yang bergerak maju bagaikan membelah langit. Jumlah besar
prajurit dari ujung hingga ke ujung lainnya hampir tak kelihatan, ditambahkan
dengan pandangan yang tertutup debu yang mengepul. Kembali bebunyian
penyemangat ditalu, tambur, suling, kendang, gong beri ditabuh membahana
memekakkan telinga.
Randuwatangan. Segala kemungkinan
sedang dirembug, Baginda Matswapati memberikan usul, “ Anak anak dan cucu cuku, negaraku, bahkan jiwaku beserta anak- anakku
sudah aku pertaruhkan untuk kejayaan Pandawa. Sumpahku telah terucap, ketika
cucu Pandawa sudah menyelamatkan keselamatan keluarga dan negara Wirata dari
musuh dari dalam, Kencakarupa, Rupakenca dan Rajamala, dan musuh dari luar Para
Kurawa lan sraya prajurit dari Trikarta Prabu Susarman”. Demikian
Matswapati membuka usulannya.
Silakan Download Disini

Tidak ada komentar