(Darah Kuru) Politik Kekuasan
Hari semakin siang, sinar matahari
bertambah panas. Lautan manusia di alun-alun Cempalaradya berusaha untuk bertahan
dalam teriknya matahari. Karena bagi mereka sayembara perang tanding ini lebih
menarik dan lebih menegangkan dibandingkan dengan sayembara memanah. Panggung
sayembara kembali menjadi pusat perhatian. Gandamana berdiri kokoh di atas
kedua kakinya yang kokoh pula. Satu persatu peserta sayembara perang tanding
telah dikalahkan. Sorak-sorai dan tepuk tangan tak henti-hentinya menyambut
kemenangan Gandamana.
Menyaksikan kesaktian Gandamana,
peserta sayembara semakin tergetar hatinya. Banyak diantara mereka telah
mengurungkan niatnya untuk mengikuti sayembara. Mereka memutuskan untuk menjadi
penonton saja. Oleh karenanya beberapa waktu ditunggu tak juga ada peserta baru
yang mencoba naik ke atas panggung dengan muka tengadah dan dada membusung.
Udara yang panas menjadi semakin
panas. Orang-orang mulai berteriak tak sabar menanti calon lawan Gandamana yang
baru. Dalam situasi yang demikian, terlintas di pikiran Gandamana, adakah
seseorang yang mampu memenangkan sayembara dengan mengalahkan diriku? Jika tidak
ada artinya bahwa diantara lautan manusia itu tidak ada orang yang pantas
menjadi pendamping Durpadi. Tetapi jika pun ada sesorang yang mampu mengalahkan
aku, tentunya aku berharap agar Durpadi mau mengakui kemenangannya dan bersedia
menjadi isterinya. Karena jika Durpadi menolaknya, seperti yang telah dilakukan
kepada pemuda rupawan dari kalangan sudra, aku tidak dapat berbuat apa-apa
lagi, karena aku sudah dikalahkan bahkan bisa juga aku telah gugur.
Namun jika pun aku benar-benar gugur
dalam sayembara ini, aku telah siap. Aku tidak akan menyesal. Karena itu
artinya bahwa aku telah mengorbankan diri untuk Durpadi agar mendapat calon
pendamping yang pantas dan berkualitas. Dan juga demi kebesaran negara
Pancalaradya atau Cempalaradya.
Jika pun aku sudah tidak diberi
waktu lagi untuk mengabdi, aku sadar bahwa diriku menjadi semakin renta dan
ringkih. Aku harus tahu diri untuk generasi selanjutnya yang lebih muda dan
yang lebih perkasa. Oleh karenanya aku bangga jika dikalahkan oleh orang muda
jujur dan sakti.
Pada saat Gandamana menyusuri jalan
pikirannya, tiba-tiba melompatlah di atas panggung sosok tinggi perkasa yang
memakai pakaian Brahmana. Ia bernama Bima. Banyak orang mengetahui bahwa ia
datang ke tempat sayembara bersama brahmana tampan yang telah menunjukkan
kesaktiannya dalam hal memanah. Maka ketika saudara brahmana tampan dan sakti
tersebut naik ke atas panggung sayembara, serentak lautan manusia menyambutnya
dengan teriakan dan tepuk tangan, bak suara selaksa mesin tenun yang dijalankan
para wanita di padang terbuka.
Sejenak kemudian sasana menjadi
hening dan tegang, mengiring langkah Bima yang semakin dekat dengan Gandamana.
Bima sudah sangat mengenal Gandamana bahkan kesaktian Gandamana. Karena Bima
pernah berperang melawan Gandamana sewaktu di utus Pandita Durna untuk
meringkus Gandamana dan Durpada. Namun rupanya Gandamana tidak ingat lagi akan
sosok yang berada di depannya. Karena Bima sengaja menyamar menjadi seorang
Brahmana.
Karena hari menjelang sore, dan
matahari telah bergeser semakin jauh dari titik tertinggi, Gandamana dan Bima
mempunyai keinginan yang sama yaitu untuk menyelesaikan sayembara ini
secepatnya. Oleh karenanya segeralah keduanya bergerak cepat dan kuat. Melihat
gelagat lawannya yang percaya diri, Gandamana langsung mengetrapkan aji Bandung
Bandawasa dan Aji Wungkal Bener. Sedangkan Bima menggunakan aji Angkusprana.
Decak kagum dan ketegangan tersembul dari wajah-wajah mereka yang menyaksikan.
Oleh karena keduanya mengetrapkan ilmu-ilmu tingkat tinggi, hampir semua orang
yang menjejali alun-alun Pancalaradya tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.
Keduanya berkelebat sangat cepat, sehingga mata telanjang mereka tidak mampu
membedakan dengan jelas antara Gandamana dan Bima.
Silakan Download Disini

Tidak ada komentar