(Darah Kuru) Awal Pertikaian
Megatruh kehidupan berkumandang perang. Darah satria
memperjuangkan hak dan kewajiban. Membentang politik kekusaan dasar-dasar
penyelewangan. Inilah aku begawan Palasara, pandhita pendiri Astinapura. Bukan
Sentanu. Aku kecil dan sederhana. Wujudku tidak melebihi batara Kamajaya. Baju
putih dan dengan bendana (Topi seperti kain sorban yang diikat dengan
melingkarkan di kepala). Tidak tampan seperti cicitku Arjuna. Tidak gagah
seperti cicitku Werkudara. Rona wajahku seperti melati bunga. Kulit sawo matang
seperti kebanyakan orang Jawa. Aku hidup sebagai pandhita muda di pertapaan
Wukir Rahtawu. Aku serupa dengan Jet Li muda. Hidup sederhana bukan layaknya
raja. Dengan empat orang abdi yang setia yaitu Semar, Gareng, Petruk dan
Bagong.
Mentari telah hilang. Langit menyungkup dengan bidangnya
yang remang. Ombak Gangga hanya riak. Namun ombak di dada bergemuruh
menggelegak. Dan berahi pun tak terkendali.
Duhai Sang Pencipta, jangan salahkan hamba, berahi adalah
karunia purba yang turun-temurun diwariskan para dewa, semenjak Sang Manikmaya
dan Dewi Uma bahkan bercinta di angkasa di atas punggung Sang Andini. Tentu tak
bisa kunihilkan peran dewata, yang membantuku menolong Putri Wirata, dan lantas
memboyongnya menjadi belahan jiwa, dan kemudian membangun sebuah negara yang
kelak akan menjadi adidaya. Hingga pelosok dunia.
“Kunamakan negeri ini Astina, dan engkau menjadi permaisuri
yang akan memancarkan keharuman ke negeri-negeri manca,” kataku. “Aku sangat
bahagia,” katanya. Wajahnya memancarkan cahaya, apalagi setelah rahimnya
menjadi pelindung setia sang putra, Abiyasa. Namun (begitulah selalu bagian
dari cerita: namun) di jagat fana ini kebahagiaan tak pernah abadi. Hidup hanya
untuk sementara. Pepatah jawa bilang seperti “urip iku kaya mampir ngombe”.
Dengan cepat ia melenting dan menjulurkan tinjunya. Namun
aku sudah menduga gerakannya. Kumentahkan pukulannya dengan tangan yang
terbuka. Tubuhnya kembali terjengkang. Dan aku akan melayangkan hantaman
pemungkas tatkala melayang cahaya terang dari langit siang. “Cucuku, tahan
pukulanmu!”Sesosok tubuh tambun yang bercahaya berdiri di antara kami.
“Mmh, kebayan para dewa rupanya.“Sudahlah, berikan negara
dan istrimu,” katanya.
Untuk menghargai Destarata sebagai putra tertua, Pandu memberi
kesempatan kakaknya memilih satu diantara ketiga putri tersebut. Dalam hati
ketiga putri itu sendiri sebenarnya mereka menolak dijodohkan dengan Destarata
yang tunanetra, apalagi tahta Astina akan diwariskan kepada Pandu Dewanata,
maka ketiganya memanjatkan doa agar tidak terpilih oleh Destarata.
Dewi Gandhari dengan dibantu adiknya, Harya Suman mencoba
membaluri tubuhnya dengan bau hanyir ikan dengan maksud agar dirinya tidak
terpilih oleh Destarata. Tetapi, Destarata yang selalu menggunakan naluri,
menggunakan indra penciumannya dalam memilih, saat ia mencium bau hanyir ikan
yang berasal dari tubuh Gandhari, bau hanyir itu justru mengingatkannya pada
panggang ikan yang menjadi makanan kesukaannya, maka Destarata memutuskan jatuh
pilihannya kepada Dewi Gandhari.
Pandu Dewanata kemudian naik tahta menjadi raja HAstinapura
menggantikan Praburesi Abyasa (Prabu Kresna Dwipayana) yang mandita di Wukir
Retawu. Ia memiliki dua permaisuri yaitu, Dewi Kunti dan Dewi Madrim. Kelak
dari rahim kedua putri tersebut akan lahir kesatria-kesatria utama, Pandawa
Lima. Dari dewi Kunti akan lahir Yudhistira, Bima, dan Arjuna, sedangkan dari
rahim Dewi Madrim lahir Nakula dan Sadewa.
Bentakan
Destarastra membuat semua yang ada di pisowanan tersebut tertunduk diam. Tidak ada
satupun yang berani mengeluarkan kata-kata. Destarastra sendiri nampaknya sudah
tidak ingin lagi mengeluarkan sepatah kata pun. Bahkan ia memberi isyarat
kepada Gendari agar dituntunnya meninggalkan pisowanan terbatas.
Sengkuni
semakin terbakar atas nasib baik yang dialami Bimasena. Api kebencian yang
menyala-nyala di hati Sengkuni memang ingin sungguh-sungguh diwujudkan untuk
membakar, tidak hanya Bimasena tetapi juga Kunti dan ke lima anaknya.
Ketika
matahari mulai meninggi, bukit letak pesanggrahan Bale Sigala-gala dibangun,
penuh sesak. Orang-orang pada datang untuk memastikan apakah Raden Yudhisthira
dan saudara-saudaranya dan juga Ibunya dapat menyelamatkan diri?
“Inilah
mayat Kunthi, walaupun sudah menjadi arang, masih kelihatan bahwa ini adalah mayat
seorang wanita. Dan yang lima ini adalah anak-anaknya, yaitu: Yudhisthira,
Bimasena, Herjuna, Nakula dan Sadewa.”
Dengan
penuh kelegaan Sengkuni menyakinkan bahwa ke enam mayat yang ada, adalah Kunthi
dan Pandhawa lima. Dan rupanya keyakinan Sengkuni tersebut tak terbantahkan,
karena ada bukti yang ditunjukan. Para rakyat bersedih. Rasa hormat dan rasa
cinta yang begitu tinggi yang ditunjukkan oleh rakyat HAstinapura kepada
Pandawa, walaupun sudah menjadi abu, membuat Sengkuni dan Para Kurawa panas hatinya.
Maka segeralah Patih Sengkuni memberikan perintah untuk membubarkan para kawula
pedesaan itu. Satu persatu mereka meninggalkan puing-puing Bale Sigala-gala
dengan kepala tunduk. Tanpa disadari kaki mereka menginjak-injak abu Purucona
sang Arsitek yang malang.
Silakan Download Disini

Tidak ada komentar